Tuesday, March 20, 2018

Apa Itu Asgardia ?

Anyeong sobat sains kali ini saya akan membagikan artikel tentang Asgardia negara pertama yang akan berdiri di luar angkasa. Tanpa banyak bacot lagi di baca aja lah pokoknya.


Bagi Anda penggemar film Star Trek mungkin tak akan asing dengan Yorktown, sebuah stasiun luar angkasa raksasa yang dihuni berbagai ras alien anggota United Federation of Planets. Dan baru-baru ini, sebuah konsep yang mirip Yorktown dengan nama Asgardia direncanakan untuk segera dibangun.

Pemimpin proyek Asgardia mengatakan bahwa nantinya Asgardia akan menjadi negara sendiri yang berbasis di luar angkasa. Direncanakan pula satelit pertama Argardia akan diluncurkan pada tahun 2017 dan di masa depan akan mampu menampung hingga 150 juta manusia untuk tinggal dan bekerja di luar angkasa.

Menurut Igor Ashurbeyli, ilmuwan asal Rusia yang pemimpin tim proyek Asgardia yang juga pendirinya, orang-orang di Bumi sekarang sudah dapat mengajukan diri untuk dipilih sebagai salah satu dari 100.000 warga pertama melalui situs web resmi Asgardia yang beralamat di http://asgardia.space.

Pada saat konferensi pers di Paris pada 12 Oktober 2016 kemarin, jumlah orang yang mengajukan diri sebagai "warga negara Asgardia" telah mencapai lebih dari 84.000 orang. Sementara itu, Asgardia sendiri saat ini belum resmi menjadi sebuah negara.

Namun, rencananya Asgardia akan menjadi sebuah negara pertama yang tidak berada di permukaan Bumi, melainkan di luar angkasa, atau tepatnya di orbit rendah Bumi. Tim proyek Asgardia mengatakan mereka membutuhkan setidaknya puluhan ribu "warga negara" sebelum mereka secara resmi diakui sebagai negara oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

 Menurut situs web resmi Asgardia, tidak ada biaya yang dimintai setiap orang di Bumi yang ingin mengganti kewarganegaraannya menjadi warga negara Asgardia. Asgardia mengklaim sebagai prototipe masyarakat yang bebas dan tidak terikat, yang menjunjung tinggi pengetahuan, kecerdasan, ilmu sebagai inti. Juga mengakui nilai luhur dari setiap manusia.

Juru bicara proyek Asgardia, Timothy Wild menolak mengungkapkan berapa jumlah peneliti dan pakar yang terlibat dalam proyek ini, namun dia memastikan misi ini bukan main-main ataupun omong kosong belaka.
Sebagai sebuah entitas negara, Asgardia juga sedang mencari ide dan masukan untuk bendera, lambang negara sampai lagu kebangsaannya. "Asgardia melayani seluruh umat manusia yang ingin terlepas dari kesejahteraan pribadi dan kemakmuran negara di mana mereka dilahirkan," ujar Ashurbeyli.

Ketua Komite Ilmu Antariksa UNESCO itu menyatakan, manusia yang ingin berpindah ke Asgardia, punya misi khusus yakni mendorong perdamaian dunia, dan melindungi Bumi dari asteroid 'nakal' serta puing-puing di luar angkasa.

Menanggapi ambisi tersebut, pakar luar angkasa, Joanne Irene Gabrynowicz berpendapat, tidak mudah untuk Asgardia bakal diakui sebagai sebuah negara. "Di bawah hukum internasional, ada kriteria khusus untuk suatu entitas untuk diakui sebagai sebuah bangsa. Yakni harus memiliki wilayah dan populasi, dan diakui sebagai bangsa oleh bangsa lain. Hanya menyatakan bahwa bangsa ada itu tidak cukup," katanya.

Diketahui untuk konteks antariksa selama ini ada traktat yang menegaskan tidak boleh entitas negara mana pun yang bisa mengklaim wilayah di antariksa. Profesor Sa'id Mosteshar, Director dari London Institute of Space Policy and Law juga ragu bahwa Asgardia akan diakui sebagai negara di bawah peraturan internasional.

"Traktat Luar Angkasa... yang diterima oleh semua orang menyebutkan bahwa tidak ada bagian dari luar angkasa yang boleh diklaim sebagai bagian dari sebuah negara," kata Mosteshar. Selain itu, mengingat Asgardia tidak akan memiliki wilayah yang dapat mengatur dirinya sendiri dan para "warganya" tetap ada di Bumi, maka kemungkinan ia akan diakui sebagai negara akan kecil.
Namun, di atas semua itu, jika Asgardia akan benar-benar terealisasi, maka akan menjadi sebuah loncatan besar bagi manusia. Selain ada yang tinggal di Bumi, manusia di masa depan nantinya juga akan ada yang tinggal di luar angkasa. Apakah Anda berminat menjadi warga negara Asgardia?

Dan Inilah Fakta Tentang Asgardia

 

Asgardia Akan Menjadi Negara Demokrasi

 Hasil gambar untuk satelit asgardia

Ashurbeyli menyebut Asgardia akan menjadi negara yang mengusung demokrasi. Layaknya negara-negara di Bumi, Asgardia juga akan membentuk pemerintahan demokrasi berdasarkan hukum.
Warga negara Asgardia pun nanti diminta untuk turut andil memberikan suara demi sistem perumusan dasar konstitusi negara tersebut.
Tujuan dibangunnya Asgardia didasari tiga asas utama dari aspek ilmu alam dan teknologi. Pertama, Asgardia didirikan untuk menjamin kehidupan antariksa secara damai. Kedua, Asgardia hadir untuk melindungi Bumi dari ancaman objek luar angkasa, seperti komet, badai matahari, dan masih banyak lagi.
 Selain itu, Asgardia juga akan menciptakan ilmu pengetahuan luar angkasa ke negara-negara berkembang yang belum memiliki akses.
Sekadar informasi, 40 jam setelah diumumkan, ada lebih dari 100.000 orang yang sudah berbondong-bondong mendaftar menjadi Asgardian. Syaratnya adalah warga yang berusia 18 tahun dan harus punya email.
Siapa pun bisa mendaftar menjadi calon Asgardian, tak peduli apa kebangsaaannya, suku, gender, ras, agama, serta kondisi keuangan. Cuma, “Pemerintah” Asgardia tidak menerima calon Asgardian hewan dan robot.

Satelit Asgardia Pertama Sudah Meninggalkan BumiHasil gambar untuk satelit asgardia

Walaupun sempat diragukan, tampaknya Ashurbeyli benar-benar berniat untuk merealisasikan Asgardia.
Pada Minggu (12/11/2017), kerajaan luar angkasa ini meluncurkan satelit pertamanya.
Dirangkum dari New Scientist, Senin (13/11/2017), satelit yang bernama Asgardia-1 tersebut berukuran sebesar sepotong roti saja.
Namun, ia membawa setengah terabyte data berisi dasar proyeknya, seperti konstitusi bangsa, simbol nasional, hingga 115.000 data warganya.
Satelit ini diluncurkan melalui fasilitas peluncuran Wallops milik NASA di Virginia, tepatnya di atas pesawat ruang angkasa Cygnus di orbit roket ATK Antares.
Pesawat Cygnus tersebut berlabuh di Internastional Space Station (ISS) pada Selasa, 14 November 2017, untuk melakukan misi utamanya, yaitu mengirim barang-barang untuk astronot di sana.
Setelah itu, dalam waktu kurang lebih satu bulan, pesawat ini akan terbang kembali dan melepaskan satelit Asgardia-1 ke orbitnya.

 Diminati WNI
 Hasil gambar untuk indonesia
Hingga berita ini naik, ada lebih dari 280.000 pendaftar yang berminat untuk tinggal di Asgardia. Adapun pendaftar berasal dari 217 negara dengan mayoritas usia 18-35 tahun.
Sementara di Indonesia sudah mencapai 11.000 pendaftar. Lebih lanjut, sebanyak 84 persen warga Indonesia yang mendaftarkan diri sebagai Asgardian adalah laki-laki dan 16 persennya adalah wanita.
 Dari peta yang ada di laman web-nya, tampak persebaran pendaftar di Indonesia tersebar di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Denpasar, Yogyakarta, Bekasi, Banjarmasin, Makassar, Gorontalo, dan kota-kota lain di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Mengacu dari laman web tersebut, ada 855 orang dari Jakarta yang mendaftarkan diri untuk menjadi Asgardian. Disusul Bandung dengan 343 orang, Surabaya sebanyak 248 orang, Tangerang sebanyak 240 orang, dan Bekasi ada 231 orang.
Indonesia sendiri sekarang menempati posisi ke-7 negara dengan pendaftar paling banyak. Selain Indonesia, pendaftar terbanyak berasal dari Turki, disusul Tiongkok, Amerika Serikat, Brasil, dan Inggris.

 Negara Akan Bertempat di Wahana Raksasa



Seperti dijelaskan Ashurbeyli, Asgardia akan bertempat di sebuah wahana antariksa. Ia menggambarkan seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS, International Space Station), dengan ukuran yang lebih megah layaknya pesawat luar angkasa di film-film fiksi ilmiah.
Ia akan mengambil konsep desain futuristik yang dirancang oleh ahli-ahli antariksa dari Kanada, Rumania, Rusia, dan Amerika Serikat (AS).
Wahana bisa menampung setidaknya 150 ribu jiwa, dan dirancang oleh ahli-ahli antariksa dari Kanada, Rumania, Rusia, dan Amerika Serikat (AS). Namun, ke depannya Ashurbeyli ingin menambah ruang wahana Asgardia agar bisa menampung hingga 1,5 juta jiwa. 
Ashurbeyli mengatakan, Asgardia diambil dari wilayah hunian para dewa Nors, yakni Asgard. Nama ini juga hadir sebagai kota fiktif yang ada di film Thor.

Diragukan Konsepnya 

Asgardia memang masih sebuah konsep. Pada kenyataannya, masih butuh jalan panjang agar Asgardia akhirnya bisa berdaulat di Tata Surya dan diakui negara-negara lain. Ke depannya, Ashurbeyli akan membawa proposal Asgardia untuk didaftarkan menjadi sebuah negara ke Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
Perkumpulan astronom dari sejumlah Badan Antariksa negara-negara besar berpendapat bahwa gagasan Asgardia untuk melindungi dan melestarikan kemanusiaan memang baik.
Namun, langkah tersebut tidaklah dapat menanggulangi masalah global seperti kelebihan populasi manusia di Bumi.
"Bagaimanapun, desain dan solusi teknologi yang mereka tawarkan setidaknya bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah dan sejumlah perusahaan besar," tulis pernyataan para astronom ini sebagaimana dikutip The Market Mogul.
Selain itu, ambisi Asgardia untuk mewujudkan koloni manusia di luar angkasa juga dinilai terlalu gegabah. Pasalnya, teknologi daya untuk mendukung kehidupan luar angkasa dengan jumlah jiwa yang banyak, belum ada. Apalagi untuk Asgardia yang seakan mengajak warga dunia untuk tinggal permanen di luar angkasa.
Tak cuma soal teknologi, mereka juga membahas kendala pembangunan Asgardia dari sisi legalitas. Sejauh ini, belum ada aturan untuk membangun entitas sebuah negara di luar Bumi.
Don't Forget To Pray To Allah SWT & Stay Classy

Arya Your Bae

Author & Editor

Saya Muhammad Arya Pamungkas Kelas 9A Membuat blog hanya untuk bersenan-senang.

0 comments:

Post a Comment

 
biz.